OBITUARI NIKOLAUS MEO
Pria Humoris dan Selalu Penuh Senyum
 |
Penampilan terakhir almarhum Niko Meo memimpin tarian ja'i khas Ngada di Canggu dalam sebuah event wisata, malam Selasa, 23 Maret 2020 |
Kaget. Itulah suasana kebatinan yang dialami warga
Ikada Bali saat mendengar kabar duka saudara kami Nikolaus Meo tutup usia,
Selasa pagi pukul 08.00 Wita, 23 Maret 2020.
Padahal semalam, pria yang akrab disapa Niko ini tampil prima dan energik
memimpin tim penari ja’i dalam sebuah event di Canggu, Kuta Utara. Ya, Niko Meo
terkenal sebagai sosok “penghidup” acara-cara pesta dengan kegemarannya menari
aneka ragam tarian dan dansa tombak.
Berita kepergian Niko Meo, kelahiran Naidewa, Golewa,
Ngada 1 Februari 1974 meninggalkan duka
yg amat dalam buat sang istri Ermelinda
Moi asal Soa dan ketiga buah hatinya, Maria Karolina Uta (duduk kelas 3 SMP),
Jonson Brayen Gili (kelas 4 SD) dan Agustino Sergio Soba yang belum sekolah.
Dituturkan sang istri, Erlin, suaminya bangun
sekitar jam 6 pagi. Lalu almarhum mengajak keponakannya untuk
membersihkan ranting-ranting pohon yang ada di belakang rumah mereka di Ungasan,
Kuta Selatan, Badung.
Ada 2 pohon. Satu pohon sudah ditebang beberapa waktu lalu. Istrinya
sempat mengingatkan rencana awal mereka memakai jasa tenaga sewa untuk menebang pohon. Namun almarhum berniat mengisi waktu luang
dengan menebang dahan-dahan kecil.
 |
Kenangan foto terakhir alm Niko Meo dengan Ketua Ikada Bali terpilih Frangky Doy dan musisi Ngada Patris Nikki, Senin 23 Maret 2020. |
Jam 7 pagi, almarhum mulai membersihkan area seputar
pohon itu yang dijadikan tempat parkir truck colt diesel. Sehari-hari, almarhum
bekerja sebagai driver penyalur galian batu limestone putih ke area Denpasar, Badung,
Tabanan, Gianyar dan Klungkung.
Istrinya sempat menawarkan suaminya untuk minum teh pagi. Karena Erlin hendak
bergegas belanja di pasar untuk persiapan Nyepi. Maklum saat Nyepi, warga Bali
tidak boleh keluar rumah. Namun Erlin memiliki firasat batin yang tidak enak. “Saya
tiba-tiba merasa berat untuk berangkat ke pasar, padahal pasar setengah hari karena mau Nyepi,” ujarnya.
 |
Pose terakhir bersama putri sulung Maria Karolina Uta |
Tiba-tiba Erlin mendengar suara teriakan
dari keponakannya dalam bahasa daerah Bajawa….”Aduh Tantaaaa …Om Niko robha
pohon…!!! Langsung Erlin dan putri sulung, Ita, berlari ke halaman belakang
rumah. Mereka melihat kepala almarhum terlungkup. Keponakan almarhum langsung
berlari keluar rumah mencari bantuan dan taxi untuk evakuasi ke rumah sakit.
Saat itulah, Erlin dan anaknya Ita membalikan tubuh Niko. Suaminya sudah tidak
sadarkan diri. Ada luka di kepalanya karena membentur batu. Bukit Ungasan
adalah daerah bebatuan karang.
“Saya sudah mengingatkan Niko untuk tidak naik terlalu tinggi. Pohonnya sangat
tinggi. Lebih tinggi dari pohon mangga. Entah kenapa Niko terus panjat sambil
bilang …”tidak apa-apa Mama…”
Di Bali, almarhum Niko yang bergabung di Sub Unit Golewa ini tinggal bersama kedua saudara kandungnya, Albert Meo dan
Matias Dopo. Albert dan Matias langsung datang ke rumah begitu mendengar kabar
saudara tertua mereka jatuh dari pohon. Mereka membawa Niko ke rumah sakit
Jimbaran.
Menurut pemeriksaan dokter, Niko telah meninggal dunia meski
saudaranya Matias Dopo berulangkali memohon tim medis untuk mengecek denyut
jantungnya. Apa mau dikata… Nikolaus Meo berpulang kembali ke Sang Khalik dalam
usia produktif 45 tahun.
Sendirian Berbaju Merah dan Dikalungi Bunga
Ketua Ikada terpilih Fransiskus Doy merasa amat terpukul karena semalam menjadi
malam perjumpaan terakhir dengan Niko Meo. Dikisahkan, semalam almarhum
memimpin kelompok tarian massal ja’i di Canggu.
“Travel kami ada menerima 16
rombongan tamu. Kami menyiapkan 16 kalungan bunga untuk perwakilan rombongan. Semua
penari pria kami minta berbaju putih. Anehnya tadi malam Om Niko pake baju
merah sendirian. Saat pengalungan bunga, satu perwakilan rombongan tidak hadir.
Saya kalungkan bunga itu ke Om Niko. Ternyata itu sebuah firasat,” kenangnya.
Sosok Niko Meo dalam Kenangan Bapak Robert Deru
Sesepuh Ikada Bali Bapak Robert Deru begitu merasa kehilangan sosok figur muda
Ikada yang sangat aktif baik di kegiatan Gereja, Ikada maupun lingkungan.
 |
Alm Nikolaus Meo dan istrinya Ermelinda Moi, asal Soa, Ngada |
“Pagi ini IKADA BALI kehilangan sosok yg patut di teladani. Dalam usia yg msh
relatif muda telah proaktif di berbagai kegiatan di Gereja, di IKADA BALI, lingkungan
masyakat Desa Ungasan dan selalu tampil penuh semangat, ceria dan sederhana apa
adanya. Pagi ini kita dikejutkan sosok ini telah meninggalkan kita semua untuk
selama- lamanya. Kita semua yakin dan percaya sahabat terkasih kita ini sudah
berada di Surga bersama Para Kudus dan menjadi Pendoa bagi kita semua.” tulis
Bapak Robert Deru di akun Facebooknya.
Dimandikan di RS Angkatan Darat Sudirman
Pukul 13.00 Wita jenasah almarhum dibawa ke Rumah
Duka RS Angkatan Darat Sudirman Denpasar
untuk dimandikan. Dibawa oleh ambulance dari Rukun Kematian Dekenat yang
ditangani langsung Bapak Paulus Lingga.
Warga Ikada Bali pun berkumpul di rumah duka RS AD.
Hadir para senior Frans Weo, Kris Bani Lodhu, Ivan Duhlo, Fritz Reo, Herman
Josep, Yoseph Rudu, Beny Uleander, Andreas Dhone, Fanci Soro dan ikatan
keluarga dari Golewa, Soa, Jerebuu, Lobobutu, Aine, Aimere, Boba Ezzo dan sub
unit lainnya.
Saat ini jenasah almarhum disemayamkan di tempat
penitipan jenasah (TPJ) Mumbul, Nusa Dua. Menurut rencana, pemakamanan pada hari
Sabtu, 28 Maret 2020 di TPU Mumbul Nusa Dua. Mengingat bahwa tanggal 25-26
masih dalam suasana hari raya Nyepi.
Rombongan Peserta Pemakaman Dibatasi 25 Orang
Ketua Ikada Bali terpilih Fransiskus Doy
menyampaikan ucapakan terima kasih kepada semua warga Ikada yang telah melayat
dan memberikan perhatian kepada keluarga yang berduka. Frangky Doy, sapaannya,
menyampaikan juga surat edaran resmi dari Pemerintah Bali bahwa jumlah rombongan pengantar jenasah
ke pekuburan dibatasi cuma 25 orang mengingat Bali dan semua dunia kini sedang
berperang melawan penyebaran virus Corona dengan menghindari berbagai keramaian
di ruang publik.
Selamat jalan saudara kami yang murah senyum dan
humoris Nikolaus Meo. Engkau tetap hidup dalam hati dan kenangan kami. Semoga
Allah Bapa yang dimani saudara kami menyiapkan tempat terindah di kemah abadi,
Surga berkat penebusan dan darah Sang Juruselamat Yesus Kristus. Requescat in Pacem (RIP).
(Disarikan Beny Ule Ander)
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.