GuidePedia

0
Salah satu pembicara  pada Open Forum Inkopdit Tahun Buku 2017  di  Horison  Ultima Hotel Palembang Minggu 6 Mei 2018 adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof.Dr. Rhenald Kasali. Di depan 714 peserta  Open Forum Rhenald Kasali  seharusnya berbicara  tentang “Chane Leadership Menuju Koperasi Besar”. Namun  ia justru bicara di luar topik  namun sangat  membuka wawasan para aktivis GKKI. Sedikit sekali ia menyinggung  tentang koperasi. 
 
Sosok Rhenald Kasali  adalah akademisi dan praktisi bisnis kelahiran Jakarta. Ia  kini ketua program Pascasarjana ilmu  manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia produktif menulis  buku  yang selalu menjadi best seller. Buku-buku hasil karyanya  antara lain; Sembilan Fenomena Bisnis – 1997, Membidik Pasar Indonesia: SegmentasiTargeting dan PositioningGramedia Pustaka Utama (1998), Sembari Minum Kopi Politiking di Panggung Bisnis, Gramedia Pustaka Utama, Sukses Melakukan Presentasi, Gramedia Pustaka Utama (2001), Change!, Gramedia Pustaka Utama (2005), Recode Your Change DNA, Gramedia Pustaka Utama (2007), Mutasi DNA Powerhouse, Gramedia Pustaka Utama (2008), Wirausaha Muda Mandiri, Gramedia Pustaka Utama (2010), Myelin: Mobilisasi intengibles sebagai kekuatan perubahan, Gramedia Pustaka Utama (2010). Buku ini menjadi rujukan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, Cracking Zone, Gramedia Pustaka Utama (2011) dan Cracking Value, Gramedia Pustaka Utama (2012). Buku-buku  ini laris di pasaran pembaca sehingga  hamper semuanya best seller.

Berikut ini beberapa  catatan yang penulis  tangkap dari  penyampaian Rhenald Kasali. Pertama, Credit Union masih bisa bertahan sampai hari ini. Mengapa  CU masih bisa bertahan, menurut Rhenald Kasali karena  Credit Union relevan dengan perubahan zaman. Artinya  setiap ada perubahan jaman, Credit Union  masih tetap dibutuhkan oleh para anggotanya. Credit Union  adalah usaha bersama  dari, oleh dan untuk anggota. Inilah yang memungkinkan CU  tetap bertahan dalam setiap perubahan jaman.

Kedua,  meskipun Credit Union bertahan pada setiap perubahan jaman namun banyak yang cenderung membawa masa lalu ke masa kini. Credit Union terperangkap pada  masa lalu dan status quo. Banyak Koperasi Kredit yang  tidak mau berubah  mengikuti tuntutan perubahan itu sendiri. Banyak primer yang  menghendaki  system pengelolaan manajemen  seperti di masa-masa awal berdiri. Maka tak heran jika kepengurusan tak pernah berganti. Akibatnya  sulit untuk beradaptasi dengan  perkembangan  jaman yang tentu saja berbeda dari masa lalu.

Ketiga, ada kecenderung  orang membawa masa lalu ke  masa kini dan lupa bahwa seharusnya  membawa masa depan ke masa kini. Membawa masa lalu ke hari ini tentu tidak relevan lagi. Masa lalu  itu berbeda dengan masa kini. Kebutuhan  di masa lalu  berbeda dengan di masa kini. Suasana  di masa lalu berbeda dengan  di masa kini. Tantangan  di masa lalu tentu tak seberat di masa kini. Menurut Rhenald Kasali, seharusnya  ada langkah berani yakni membawa masa depan ke masa kini, ke hari ini. Maka  harus inovatif.

Keempat, perlu  adanya  kepemimpinan seperti  kepemimpinan  Dewa Brahmana, kepemimpinan seperti Dewa Wisnu dan kepemimpinan seperti  Dewa Siwa. Dewa Brahmana yang mencipta, Dewa Wisnu  yang memelihara  dan Dewa Siwa yang mengubah atau  bahkan merusak. Artinya kalau ternyata  apa yang diciptakan dan kemudian dipelihara lalu mencapai titik jenuh maka harus ada yang mengubah. Pertanyaannya, di Credit Union, siapa yang mau dan berani menjadi pengubah?

Kelima, setiap produk yang diciptakan pasti ada batas usianya jika tidak ada  gerakan untuk peremajaan. Meskipun  Rhenald Kasali tidak secara terang  memaksudkan  Credit Union  yang enggan melakukan peremajaan tetapi kenyataan banyak primer yang  enggan melakukan peremajaan kepengurusan. Selalu beralasan  belum saatnya menyerahkan kepemimpinan kepada orang muda. Maka tak heran kalau banyak primer  yang pendirinya  menjadi ketua pengurus sampai usia uzur. Primer yang tak melakukan kaderisasi sedang bergerak ke titik kehancuran.

Keenam, Credit Union  akan berakhir  apabila  sumber daya manusia (SDM) dibiarkan statis, tak  ada perubahan, tidak diremajakan dan kaum tua  enggan  diganti dengan yang muda. Ini masih menjadi fenomena  dalam gerakan koperasi kredit Indonesia. Kaum tua yang  tidak inovatif bertahan di pucuk pimpinan. Celakanya, ia sendiri sulit untuk menerima gagasan orang muda yang tentu saja lebih paham dengan kebutuhan jaman  sekarang.

Ketujuh, diperlukan keberanian untuk berubah dan lebih banyak tindakan nyata ketimbang wacana belaka. Keberanian untuk berubah ituharus  nyata dalam gerakan koperasi kredit Indonesia. Yang terjadi justru banyak Credit Union yang  tetap  tak berubah karena merasa ada di zona nyaman. Akhirnya  koperasi yang tidak berubah tergerus oleh perubahan. Ketika  koperasi yang lain, yang melek pada perubahan  terus maju  dan inovatif, koperasi yang  tidak mau berubah  akhirnya tertinggal dan ditinggalkan oleh  anggotanya. Jaman “now”  pelayanan manual  sudah tidak relevan lagi. Koperasi harus bergerak cepat, melayani anggota di saat anggota ada di mana saja. Maka  para pengurus harus punya keberanian untuk melakukan perubahan,  jangan jadikan perubahan sekedar sebagai wacana belaka.***agust g thuru

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top