Oleh: Agus G Thuru
Di Indonesia masalah kemiskinan bukanlah
masalah baru. Selama 66 tahun Indonesia merdeka, sepanjang itu pula potret
kemiskinan terpampang dan sulit untuk ditanggulangi. Pada
hal, cita-cita Indonesia merdeka adalah memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia seperti
tercantum daalam pembukaan UUD 1945. Kenyataannya kita memang belum
sejahtera dalam arti masih dililit oleh kemiskinan.
Sejak sekolah dasar kita telah
diajarkan bahwa kemiskinan adalah tragedi bagi kehidupan
umat manusia. Karena itu dunia pendidikan menanamkan sikap
menghemat dalam diri anak sejak usia dini. Dengan
menghemat maka umat manusia akan terhindar dari
kemiskinan. Pribahasa sedikit-sedikit, lama-lama menjadi
bukit atau adde parvum parvo, manus acervus erit, kata pepatah
latin,memaksudkan bahwa hanya dengan menghemat maka umat
manusia akan terbebas dari kemiskinan. Pertanyaan menarik terkait
dengan konteks kemiskinan adalah, apakah kita bangsa
yang tidak tahu menghemat atau bangsa yang pemboros?
Memang harus diakui ada banyak penyebab
terjadinya kemiskinan di Indonesia. Tetapi yang paling menyebabkan terjadinya
kemiskinan adalah korupsi yang merajalela.
Korupsi di Indonesia sesungguhnya sudah pada
taraf yang sangat memprihatinkan dan telah
menggiring bangsa ini berada di bibir jurang
kebangkrutan. Berbagai kebijakan politik juga cenderung memboroskan
dana yang sesungguhnya kalau diperuntukkan untuk menyejahterakan
rakyat justru akan memperkecil angka
kemiskinan. Pembangunan fasilitas mewah di gedung wakil rakyat, korupsi yang
dilakukan oleh eksekutif, legislatif dan yudikatif, penghamburan uang negara
untuk proyek-proyek yang tidak bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang
banyak telah memberikan andil untuk semakin
memiskinan negeri tercinta ini.
Sementara perjuangan untuk menghentikan kejahatan
moral, kejahatan korupsi selalu kandas karena rakyat
Indonesia sendiri tidak punya komitmen yang sama untuk
membawa Indonesia ini ke arah masa depan yang lebih baik. Banyak kelompok di
negeri ini yang meneriakkan keadilan dan pemerataan, namun di sisi
lain mereka melakukan penghancuran, pengrusakan, pembakaran, dan
aksi deskruptif lainnya. Concordia civium murus urbium, kata orang Latin yang
artinya kesatuan warga adalah tembok kota.
Hanya dengan persatuan
antara warga negara kemiskinan akan
mampu dihalau dari muka bumi Indonesia ini. Rasa persatuan antar warga adalah
alat pertahanan yang terbaik dalam mempertahankan negara dari
keruntuhan. Jika demikian maka anggota koperasi telah
‘bersatu’ dan kita adalah tembok kota yang
kokoh, soko guru ekonomi Indonesia. Ex nihilo nihil fit, tak ada sesuatupun
yang muncul dari ketiadaan. Jadi untuk mengentaskan kemiskinan harus
ada aksi. Bergabung di koperasi adalah aksi besar yang membawa dampak besar.
Percayalah!*
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.