GuidePedia

0


Kian hari kian mengkwatirkan. Makin kesini semakin mengerikan
Setiap detik ruang pikir kita dipenuhi setumpuk pertanyaan. Mengapa, Apakah, Kenapa, Dimanakah, Kapankah, Bagaimana..
Begitulah kira kira yg sering kita temui disetiap perbincangan org2 di mana mana termasuk di medsos.

Si setan kurab abstrak Covid-19 ini begitu dasyatnya menembus batas ruang dan waktu tuk menyebarkan ketakutan dan maut. Para calon penghuni Surga yg hari harinya berbicara dan dekat dengan Raja Penguasa semesta alam pun lari terbirit birit, mengunci rumah dan diam dlm kesunyian. Begitu juga para penguasa alam gaib kehilangan penglihatan dan ilmu raga sukma. Bahasa slank menyebutnya " Jago2 Ilang Abis".

Si setan Kurap ini ternyata tidak bisa dibasmi dengan ilmu2 sakti seperti:
Kunyuk melempar buah
Pukulan matahari
Angin topan melanda samudera
Ilmu Dasendria
Rengkah gunung
Panah Konta Wijaya Danu
Bunga kembang kusuma
Seruling sakti
Pedang Malaikat
Cambuk sakti Amarasuli
Tapak Buda
Cakar elang
Dewa mabuk
Jurus ular
Ru'u
Dll..

Dia hanya bisa dibasmi dg Ilmu kebijaksanaan saja yaitu "KEDISIPLINAN" seperti:
Diam di rumah
Jaga jarak
Cuci tangan dg sabun
Mandi berkali kali
Minum air hangat
Berjemur di matahari pagi
Tutup perbatasan
Isolasi mandiri
Tidak boleh ngumpul
Tidak boleh mudik
Dengan ilmu kedisiplinan ini ternyata punya efek samping yg tidak kalah dasyatnya sebab membasmi si setan kurab abstrak ini membutuhkan waktu yg sangat lama alias tidak seketika seperti:
Akses ekonomi ditutup
Dirumahkan
PHK
Kekurangan bahan pokok
Pengangguran
Kemiskinan
Kriminalitas

Nah siapa sih sebenarnya yg bertanggungjawab atas efek samping ini? yaa.. pembuat kebijakan. Para pembuat kebijakan ini sangat tidak siap. Banyak org berteriak.. lho terus kita makan apa? Uang dari mana? Bayar kos pake apa? Cicilian gimana? Dan teriakan2 lainnya yg memilukan.

Kita percaya dan memang terbukti bhw pemerintah telah mengambil langkah2 untuk mengurangi dampak ini namun SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU guessss. Padahal yg Rakyat perlukan mestinya tanpa syarat. ASN mendapat hak utuh kerena mereka dianggap yg punya Negara. OJOL didramatisir sedemikian rupa sebagai kelompok yg paling hina dina, melarat, miskin dan papa sehingga perlu diprioritaskan. Atau anak2 mahasiswa/i yg dianggap sebagai pemuda harapan bangsa perlu mendapat tempat dalam perhitungan negara.. Terus yg lainnya gimana? Derita Lho gitu??

Ajakan untuk membantu sesama pun dikumandangkan sebagai bagian dari Solidaritasme rasa kemanusiaan. Sehingga org berlomba lomba untuk memberi dari kekurangannya TETAPI... Apakah dapat berkelanjutan? Di bulan April ini, okelah masih bisa dilakukan..terus bagaimana dg nanti? Bulan depan, dua tiga bulan kedepan dan sampe akhir tahun?

Dengan sisa pundi2 yg ada, sebagian besar org kini mulai berbisnis kecil kecilan. Ada yg konvensional ada pula yg modern berbasis online. Kendaraan2 pariwisata yg selama ini memuat para turis, kini terparkir disetiap sudut jalanan untuk berdagang buah buahan. Petanyaannya, kok sepiii? Ya ialah.. yg beli siapa? Klopun org membeli, seberapa banyak? Kini setiap org yg masih memiliki cukup keuangan sudah mengkalkulasikan secara matang bagaimana nasib hidup keluarganya sampai akhir tahun setidaknya dpt bertahan 6 bulan kedepan kerena kesulitan ini bukan kesulitan segelintir tapi nasional dan mendunia. Sangatlah naif jika bantuan pemerintah terhadap rakyatnya masih dg persyaratan dan tertuju pada rakyat2 tertentu. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yg heterogen. Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan siapapun, dimanapun di wilayah NKRI dimana dijamin oleh undang2. Sehingga syarat2 tertentu mestinya diabaikan sementara dg melihat mereka sebagai warga negara atau sebangsa dan setanah air.

Sementara disaat ini, kita bahkan belum tahu atau menerima informasi secara pasti kapan derita ini akan berakhir. Semuanya ngambang.. serba tak pasti.. yg pasti hanyalah hidup ini terus berjalan dari waktu ke waktu dalam penderitaan yg teramat sangat. Mau tersenyum, senyumnya terasa tawar.. mau tetap yakin bhw ini akan berakhir namun keyakinan sudah secara perlahan mulai tergerus. Mau berjualan, semua orang berjualan..tidak ada yg beli. Mau berharap dari Negara, Syarat dan ketentuan berlaku.
Akhir kalimat yang nyata saat ini yakni, HIDUPMU ADALAH TANGGUNGAN DAN URUSANMU SENDIRI. ITU DERITA LHO. BUKAN KITA APALAGI MEREKA..  Jadi, janganlah terus berharap dari org lain untuk mengisi perut anda yg lapar. Berjuanglah sendiri. Uruslah diri sendiri dan kalaupun mati, ya mati sana sendiri.

Jika anda mendapat perhatian dg memperoleh sumbangan dari siapa pun, bersyukurlah dan berterima kasihlah. Jangan cemburu, jangan ngeyel, jangan Dengki, jangan Iri apalagi sakit hati jika tidak mendapatkannya. Sebab itu bukan dari Negara. Hidupmu itu adalah urusanmu. Bukan siapa2 apalagi org yg tidak ada hubungan kelahiran denganmu. Klo mau berteriak, teriaklah pada pemerintah, bukan pada org2 disekitarmu sebab mereka punya beban hidupnya sendiri.Semoga kemarahan jiwaku didengar meski saya sendiri pun tidak meyakininya.***Frengky Doy

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top