GuidePedia

0

(The effect of staying at home)

Dari pengamatan saya terhadap keseharian yang saya temui, saya dapat menyimpulkan satu hal: Tuhan memang serba bisa, tetapi matematika ala Dia sungguh misterius. Kesimpulan ini bukan tanpa dasar, lho. Banyak bukti empiris yang mendukung keaimpulan saya ini.

Sebagai seorang "kuli harian" saya tak mengkin mengharapkan penghasilan tinggi dalam waktu sekejap. Terlebih karena saya memegang prinsip, hal yang terpenting dalam bekerja adalah kepuasan hati. Saya lebih memilih pekerjaan yang mungkin tak segemerlap pekerjaan yang dipilih teman-teman seangkatan saya, tetapi mampu 'memuaskan' idealisme saya.

Saya memang sangat mencintai dan menikmati pekerjaan saya saat ini. Akan tetapi saat saya berbincang dengan seorang teman yang bekerja di Ibukota, ia mulai membandingkan penghasilan kami. Jelas saja saya kalah telak. Saya sempat jengkel sebentar. Bagaimana tidak. Selama menjadi mahasiswa, sepertinya prestasi kami sejajar. Tetapi mengapa Tuhan menitipkan rezeki yang sama besarnya dengan yang dititipkan pada teman saya ini? Ini bukan protes!

Akan tetapi, begitu saya merenung kembali segala kebaikan Tuhan, saya menemukan satu hal yang luar biasa. Ternyata penghasilan saya yang tak seberapa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk membantu saudara2 yang memerlukan dan tidak menjadikan saya miskin. Padahal, logikanya, pengeluaran saya setiap bulanya bisa sampai dua kali lipat penghasilan saya.

Lalu, darimana sisa uang yang saya dapat untuk menutupi kesemuanya itu? Wah..., ya dari berbagai sumber (yang pasti tidak korup atau memurk-up anggaran). Tetapi saya yakin dan percaya tanpa campur tangan-Nya, itu semua tidak mungkin. Nah, ini salah satu alasan mengapa matematika Tuhan misterius. Bukankah seharusnya neraca saya sudah njomplang...kok masih bisa hidup.

Bukti kedua adalah kesaksian seorang teman. Ia mengaku kalau semenjak lajang, penghasilanya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Anehnya, pada saat dia masih membujang, penghasilannya selalu pas. Maksudnya, pas akhir bulan pas uangnya habis. Anehnya lagi, begitu ia berkeluarga dan memiliki anak, dengan penghasilan yang relatif sama, ia masih bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Aneh bukan? Kalau bagi manusia 1 juta dibagi satu sama dengan 1 juta dan 1 juta dibagi dua sama dengan 500 ribu. Tidak demikian bagi Tuhan. Dari kesaksian teman saya 1 juta dibagi tiga sama dengan satu juta dan masih sisa.
Ya, Tuhan selalu mencukupkan apa pun kebutuhan kita. Tanpa kita minta pun, Dia sudah 'menghitung' kebutuhan kita dan menyediakan semua lewat jalan2-Nya yang terkadang begitu ajaib dan tak terduga.

Kata bijak bertutur: "Bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba berjalan jauh di jalur-jalur 'cukup', segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar".***Stefanus Haryanto

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top