Catatan atas dialog agama dengan Prof. Dr. Din Syamsuddin, Utusan Khusus Presiden di Bidang Dialog Agama dan Peradaban di Bali.
Oleh:
Beny Ule Ander
James
Simpson, penemu Chloroform, ketika ditanya apakah penemuan terbesarnya? Ia
memberikan jawaban yang mengguncang kepongahan manusia. “Penemuan terbesar yang
pernah kubuat adalah bahwa aku adalah orang berdosa yang tersesat,” ujarnya
mantap. Secuil kisah pengakuan Simpson memberikan gambaran faktual bahwa
manusia adalah pribadi-pribadi yang menghidupi tiang-tiang peradaban.
Kerapuhan, kebodohan dan kesombonganlah yang membuat manusia jauh tersesat dari
rahasia kekayaan alam.
Kemampuan
manusia mengekplorasi alam dan tatanan sosial tidak lahir dari kipasan mimpi,
tapi dari pencarian nilai-nilai abadi. Tentu saja, rasa rindu imanen tertanam
rapi dalam lubuk jiwa. Ya rindu akan perdamaian abadi, kesejahteraan dan
kerukunan hidup membuat kita tetap bertahan sebagai satu bangsa dan negara.
Meski hidup makin sulit, tapi optimisme bahwa kesejahteraan itu benar-benar ada
di muka bumi ini. Kemakmuran bukanlah ideologi “pepesan kosong”.
Nusantara
ini membutuhkan “sumber air” yang mengaliri sungai peradaban. Dan, sumber air
itu adalah kemampuan untuk menerima perbedaan. Itulah sumber kecerdasan sejati
yaitu menempatkan keragaman sebagai mosaik peradaban. Selama berbagai perbedaan
pendapat, pandangan hidup, budaya dan suku dilihat sebagai ancaman, maka
sendi-sendi kebangsaan yang kita bangun selama ini penuh guratan kepalsuan.
Kunci perbaikan DNA manusia Indonesia ada pada akar “peradaban
Shindu”. Kita lahir dari satu rumpun, tentu saja kita memiliki konstruksi
budaya yang satu dan sama. Inilah sebenarnya “ikatan tersembunyi” yang jarang
dieksplorasi demi penyegaran kontrak sosial budaya kita sebagai satu bangsa. Memang
dari luar dunia internasional terkagum-kagum. Bangsa yang besar dengan
keanekaragaman budaya, suku dan agama selalu
kompak mendukung tim kesayangan entah timnas sepak bola maupun tim merah putih
Thomas & Uber Cup.
Perbaikan konstruksi budaya adalah agenda besar yang tidak bisa
ditawar lagi. Tapi itu adalah syarat utama membuat mimpi kita menjadi
kenyataan. Kita bermimpi menjadikan Indonesia sebagai LUMBUNG PERBEDAAN! Kita
tinggal perlu kemauan dan kemampuan mengerahkan kerja keras dan kerja cerdas
kita di semua lini --iptek, sosial, ekonomi dan politik. Semoga kaum yang ingin
meniadakan perbedaan keyakinan di negeri ini sadar bahwa mereka telah tersesat.
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.