GuidePedia

0


Aku lupa tanggal tepatnya  ketika  jantungku berdegup dan mataku terpana pada wajah seorang gadis blasteran Bali Maghilewa. Yang masih kuingat adalah ketika itu ia bermain dengan ombak kecil di pantai Wae Sugi. Sebuah pantai indah di Malapedho Inerie. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan bagaikan layar terkembang dielus  angin pantai yang bertiup sepoi.

Sudah satu minggu gadis itu memberi warna indah di pantai berjuta batu hitam. Pantai yang menyimpan kenangan masa kecilku hingga aku remaja. Gadis itu bercanda dengan ombak  hingga menjelang senja. Kadang ia duduk di atas batu besar dan memandang matahari yang tenggelam di ufuk barat. Memandang  sinar matahari senja yang bertengger  indah di puncak Ngalu Roga. Kedua matanya pun sering mengerling ke utara  menikmati  tubuh gunung Inerie dengan puncaknya yang  seperti mata tombak siap menusuk langit malam. Sering ia berlama-lama memandang ke laut lepas menikmati  ikan terbang yang tak malu-malu memamerkan kebolehan akrobatiknya di udara.

Sebetulnya sejak hari pertama berlibur di Malapedho aku sudah mendengar gadis itu menjadi buah bibir. Ia menjadi percakapan  para orang muda di kampung itu. Tentu saja  gadis itu menjadi perhatian  karena ia cantik. Tubuhnya yang tinggi semampi dan kulit kuning  serta  dua bola mata yang agak sipit memang membuat  gadis itu nyaris sangat sempurna.
“ Namanya Theresia. Ia anak bapak Ose. Ibunya keturunan Cina  Bali. Jadi wajar kalau dia itu cantik sekali.” Kata Tony sahabatku semasa di sekolah dasar.
“ Anak dari bapak Ose  siapa?” Aku bertanya pada Tony.
“ Bapa Ose itu  orang dari sini tetapi merantau ke Bali  dan sudah lama tak pulang. Orang kampung  ini geger ketika  putrinya yang cantik itu datang  berlibur. Theresia itu memang cantik sekali. Kalau aku belum  beristri, aku sudah kejar dia  sampai aku dapat.” Tony menghela nafas lalu meneguk arak  pada wadah yang disebut sea tua.

Aku tersenyum melihat tingkah sahabatku Tony. Dia teman kelasku di Sekolah Dasar Inerie. Begitu menyelesaikan sekolah dasar lima tahun kemudian ia menikah. Jadi ia  kawin muda. Sedang aku  meninggalkan  kampung  untuk melanjutkan sekolah di kota Bajawa kemudian menyelesaikan  pendidikan  menengah atas di kota Maumere. Lalu bergabung dengan sebuah biara di Jawa Tengah. Dan kini  aku kembali ke kampung halaman untuk menyepi satu atau dua bulan sebelum mengambil keputusan untuk mengikrarkan kaul pertama.
“ Teman, Theresia itu cocok untukmu. Ayo teman, kejarlah.” Tony mengoceh. Dan aku pun tersenyum. Dalam hati  aku membatin secantik  siapa gadis blasteran Maghilewa  Bali bernama Theresia itu?

Keesokan hari aku  bangun lebih pagi. Ini hari Minggu. Menikmati udara pinggir pantai yang segar. Menikmati senandung  para penyadap tuak. Dan menikmati debur ombak laut sawu. Melangkahkan kaki dari batu yang satu ke batu yang lain. Dan, di pantai Wae Sugi  gadis itu bermain dengan ombak. Ia seperti bidadari laut yang tanpa cacat. Ia  sungguh sempurna. Dan ketika aku mendekat  kedua bola matanya seperti mata tombak yang menusuk jantungku.
“ Theresia yang dari Bali itu?” Tanyaku.
“ Mmmm, yah, kog tahu namaku?” Ia balik bertanya.
“ Oh ya, Theresia  sudah menjadi buah bibir di desa ini.”
“ Ah, orang desa sini terlalu membesar-besarkan peristiwa.” Ia tersenyum. Dan senyum itu membuatku melayang.

Kami bersalaman, bergenggaman. Kurasakan  ada getar dari dua telapak tangan. Telapak tangan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Kami melangkah menyusuri pantai Wae Sugi ke arah barat. Lalu  kami duduk pada sebuah batu besar. Nyaris tanpa jarak. Begitu dekatnya  hingga ketika angin menyibak rambutnya  kurasakan  helai-helai rambut membelai wajahku. Kami saling memperkenalkan diri. Kami ngobrol untuk banyak hal. Tentang laut, tentang bebatuan, tentang gunung, tentang kampung Maghilewa dan tentang Bali yang tersohor itu.
“ Aku ingin menenangkan diri di kampung ini. Aku tahu ini kampung ayahku tempat leluhur  bersemayam. Aku telah berusaha menyelesaikan masalah hidup dengan doa. Dan kini aku  ingin leluhur bekerjasama dengan Tuhan untuk memberiku jalan yang terbaik.” Suara Theresia melesat dari bibirnya.
“ Memangnya masalah  apa yang Theresia hadapi?” Ia memandangku dan sekelumit senyum terurai dari bibirnya. Di saat sama jantungku berdegup mungkin sama gemuruhnya dengan ombak pantai.
“ Aku bingung menentukan pilihan. Meneruskan hidup membiara  atau kembali  menjadi  orang biasa. Kembali menjadi anak perempuan, menemukan jodoh, kawin lalu melahirkan anak-anak. Sungguh, saat ini aku bingung.” Theresia merundukkan wajah. Kulihat ujung kakinya memainkan  sejuta butir pasir.

Aku terpana. Kebingungan  Theresia  sama seperti kebingunganku. Theresia  bingung mengambil keputusan untuk mengucapkan kaul pertama sebagai pintu masuk ke tahap lanjutan hidup sebagai biarawati. Sedang aku  bingung mengambil keputusan untuk mengucapkan kaul pertama  sebagai tahap awal memasuki belantara hidup sebagai biarawan.
“ Kita satu nasib. Aku pun bingung mengambil keputusan, meneruskan panggilan  atau kembali ke dunia di luar biara.”
“ Oh ya, mungkin pertemuan kita ini adalah solusi. Mungkin ini jawabannya.” Theresia memandangku dan baru kulihat jelas senyumnya sangat mempesona.

Itulah pertemuanku pertama kali dengan Theresia. Pertemuan yang berlanjut dengan  menyusuri jalan  berdebu ke Gereja Santo Martinus Ruto. Pertemuan  setiap hari di pantai Wae Sugi. Pertemuan yang membuat kami lupa pada panggilan hidup masing-masing. Pertemuan yang membuat liburan tak  lagi berbatas  hari  atau bulan. Dan pertemuan yang membuahkan cinta antara dua manusia. Kami akhirnya larut dalam  belanga cinta.
Sampai pada suatu tanggal keramat 29 Maret kami saling mengikrar janji sehidup semati di depan altar di Gereja St. Yoseph Kepundung Denpasar Bali. Kami menyatu dalam sakramen perkawinan  menjadi keluarga, suami dan istri.
“ Inilah jalan yang kita temukan bersama.” Ungkapku pada Theresia.
“ Yah, semoga kita menjadi tanda yang menggembirakan  berkat pengalaman rohani kita  di biara.” Theresia  tertawa sambil memelukku erat.

Usai menikah di Denpasar kami memutuskan kembali ke Bajawa karena aku telah lulus seleksi calon pegawai negeri sipil. Lima tahun perkawinan kami adalah masa-masa yang indah. Tetapi setelah  putri kami  kedua lahir  riak-riak rumah tangga  mulai terasa. Selalu  ada pertengkaran. Selalu ada rasa cemburu. Bukan hanya  Theresia yang cemburu tetapi juga aku yang cemburu. Perkawinan kami  diwarnai dengan saling curiga. Tentang perselingkuhan. Tentang wanita idaman lain. Tentang pria idaman lain. Tentang banyak masalah  yang  belum tentu kebenarannya. Rumah tangga kami  sudah benar-benar dikuasai oleh kepongahan  yang kami ciptakan sendiri. Sampai pada akhirnya mengalami puncak.
“ Sudahlah, aku  sudah tak tahan. Aku muak, aku bosan, aku jenuh. Aku tak menemukan lagi  sesuatu yang berarti dalam perkawinan kita.” Theresia mencercaku sambil berlinang air mata.
“ Kalau kau tak tahan, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Aku muak melihat mukamu.”  Aku pun mengeluarkan kata-kata jauh lebih pedas.

Pada usia perkawinan kami yang kesepuluh tahun semuanya runtuh. Theresia kembali ke Denpasar Bali. Dan sejak itu tak ada lagi kabar berita tentang  Theresia. Beberapa kali  aku ke Denpasar berusaha mencarinya namun tak menemukan.Kepergian Theresia mengubah kehidupan. Aku baru merasakan kesepiah. Aku baru merasakan betapa pentingnya  seorang istri di sampingku. Baru merasakan betapa penting  kehadiran seorang ibu dalam keluarga.

Limabelas tahun  berlalu tanpa Theresia. Anak-anakku  telah tumbuh menjadi seorang remaja. Tetapi aku  berusaha memberi mereka pemahaman yang benar tentang sosok ibunya.Meskipun harus dengan menipu bahwa ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Hongkong. Syukurlah anak-anak memahami. Dan mereka merindukan  suatu saat dapat bertemu dengan ibunya.Dan pagi ini  29 Maret telpon genggamku berdering. Terdengar suara yang sangat kukenal.
“ Hallo, Mas, ini mama”
“ Mama, engkau dimana?”
“ Aku di Bandara Komodo dan siap transit ke Bandara Turelelo. Mas jemput aku ya?”
“ Iya  mama, iya..”
“ Aku kangen Mas”
“ Aku juga Ma”. Tak terasa air mataku  berderai. Air mata cinta. Air mata kerinduan.

Di Bandara Turelelo. Theresia menerobos kerumunan orang yang datang menjemput kerabatnya. Lalu  tanpa malu ia membenamkan drinya  dalam dekapanku. Kepalanya tenggelam dalam dadaku. Kurasakan hangat air matanya. Kunikmati denyut jantungnya. Kubiarkan ia terbenam  lebih lama dalam dadaku. Lalu ia menengadah memandangku.
“ Maafkan aku Mas”
“ Sudah, kita sudah saling memaafkan”
“ Hari ini 25 tahun perkawinan kita Mas”


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Cuma pelukan yang semakin erat. Dekapan yang semakin hangat. Dan cinta  yang bermekaran kembali. Lebih dari itu adalah saling memaafkan. Benar  apa kata Bapa Suci Fransiskus. Tak ada keluarga yang sempurna, tak ada suami yang sempurna, tak ada istri yang sempurna. Perkawinan yang sempurna adalah bila ada saling memaafkan.***Agus G. Thuru

Denpasar, 29 Maret 2016
Sebuah Renungan di Tahun Kerahiman Ilahi. Nama-nama dan ceritera dalam cerpen ini fiktif. Kesamaan hanyalah kebetulan belaka.




Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top