Ini hari keempat puluh kepergian Rugeyah,
perempuan yang telah mengisi hidupku selama tigapuluh tahun. Perempuan yang
telah melahirkan seorang anak laki-laki dan perempuan. Perempuan yang
teguh pada imannya sampai akhir hayatnya. Perempuan yang membuatku terpesona.
Perempuan yang menulis sejuta kata bahwa
dua jiwa bisa bersatu dalam satu cinta
yang tak tergoyahkan oleh kekuatan apapun. Meski iman kami berbeda.
Dan di puasaranya ini aku menabur seribu kembang indah. Pusara di pemakaman muslim tepi pantai Aimere.
Pusara tanpa salib tetapi batu
nisan untuk menandakan bahwa Rugeyah adalah seorang muslimah yang
taat dan setia pada imannya. Inilah istana indah bagi Rugeyah setelah tigapuluh tahun kami mengayuh bahtera
rumah tangga.
Di pusaranya ini aku seolah-olah terbang
melayang ke masa tigapuluh tahun. Pada
pertemuan pertama di Kota Ende. Di sebuah taman dimana terdapat patung pejuang
Ende Mari Longa. Ketika itu aku baru
saja mengundurkan diri dari status sebagai Frater setelah menjalankan tahun orientasi
pastoral di sebuah paroki di pulau
Sumba. Waktu itu pantai Ende dibalut senja. Laut biru ditaburi lampu para
nelayan. Dan gadis berjilbab itu duduk di bawah sebuah bangku yang dipayungi rindang pohon sukun.
“ Hai, boleh aku duduk di sini?” Aku
menatapnya.
“ Oh, silahkan kak.” Suaranya lembut. Sorot matanya bening. Dan
senyumnya sungguh memesona.
“ Oh ya kita belum berkenalan. Aku Marten.”
Kataku sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman.
“ Rugeyah.” Ujarnya.
Kami ngobrol untuk banyak hal. Tentang pohon sukun yang memayungi tempat kami duduk.
Rugeyah mengaku sering duduk di
tempat yang penuh catatan sejarah ini.
Di bawah pohon Sukun ini proklamator Indonesia
Bung Karno sering duduk merenung
dan menggali butir-butir pancasila. Dia tokoh besar.
“ Dia idolaku kak. Dia tokoh yang luar biasa.
Dia nasionalis. Aku mengaguminya.”
“ Kita sama-sama pengagum Bung Karno.
Bersyukur kita punya tokoh besar Bung Karno yang menggali nilai-nilai
kemanusiaan dan menjadikannya dasar
pijak negara kita.”
“ Iya kak, kita bersyukur ada Pancasila. Ia
mengikat kita menjadi satu kekuatan
dalam keragaman.” Kulihat Rugeyah
tersenyum. Wajahnya cerah. Ia cantik dalam balutan busana muslim.
Rugeyah mengisahkan dirinya baru saja
menyelesaikan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri Surabaya.
Keluarganya tinggal di Pulau Ende. Di
kota Ende ia mengajar di sebuah
Madrasah Aliyah.
“ Baru tiga bulan kak, aku menjadi guru.”
“ Profesi yang mulia.”
“ Iya kak, meskipun hanya guru honorer. Yah,
siapa tahu suatu saat diangkat menjadi
guru negeri.Oh ya, kalau kakak, sekolah dimana?”
“ Aku di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik
Ledalero.”
“ Oh, calon pastor ya?”
“
Sudah mundur dik. Tidak ada panggilan. Yah, banyak yang dipanggil
sedikit yang dipilih.”
“ Jadi awam juga kan bisa mengabdi. Asal
tulus.Oh ya, kakak asal mana?”
“ Maghilewa di Kecamatan Aimere Kabupaten
Ngada.”
“ Maghilewa? Itu kampung nenekku yang
perempuan.”
Aku terperanjat. Bagaimana mungkin nenek
perempuan Rugeyah dari Maghilewa. Lalu aku ingat kisah hilangnya seorang
anak gadis di pantai Waesugi puluhan tahun silam. Menurut kisah para
nelayan pulau Ende menculik seorang anak
gadis lalu dibawa pulang ke Ende. Ia
dijadikan istri. Ia gadis yang cantik sehingga membuat seorang nelayan jatuh cinta.
“ Kisahnya puluhan tahun silam, nenekku yang
laki-laki menculik nenek perempuan dari pantai Waesugi. Dan mereka menikah dan lahirlah ibuku.”
“ Aku pernah mendengar kisah penculikan itu.”
“ Kedua nenekku masih hidup. Dan mereka
mewariskan kisah itu kepada kami. Agar kami selalu mengenang dari mana asal leluhur kami. Suatu saat aku ingin ke Maghilewa bertemu dengan
keluarga di kampung itu.”
“ Kisah yang mengharukan.”
“ Mereka nenek-nenekku yang nekat.” Rugeyah tertawa.
Tak
ada terbayang sedikitpun bahwa setelah pertemuan itu akan ada pertemuan lain. Aku kembali ke kampung Maghilewa. Lalu setahun kemudian diangkat sebagai
pegawai negeri dan mengabdi sebagai guru agama di sebuah sekolah negeri di Kota
Aimere. Suatu hari seorang perempuan
berjilbab datang ke sekolah itu. Ia ditempatkan sebagai guru agama islam di sekolah tersebut. Dan dia adalah Rugeyah.
“ Kak, akhirnya kita bertemu lagi.Oh ya,
niatku untuk ke kampung leuhurku
tercapai juga. Aku sudah ke
Maghilewa seberlum ke Aimere ini. Pertemuan kami penuh
sukacita.”
“ Engkau luar biasa dik.”
“ Yang lebih luar biasa adalah Tuhan. Ia
menciptakan orang-orang di Maghilewa
yang tak pernah menyoalkan apa
agama seseorang. Yang mereka lihat
adalah aku ini keturunan mereka.Aku terharu kak.”
Setiap
sore kami suka mengunjungi pantai
Aimere untuk menyaksikan matahari terbenam. Kadang-kadang kami ke Pantai Wae Sugi menyaksikan debur ombak yang menjilati bebatuan tepi pantai. Memandang
laut sambil mengobrol
banyak hal. Tentang pekerjaan dan tentang masa depan. Hingga pada
suatu sore di pantai Wae Sugi kami bicara cinta.
“ Aku mencintaimu Rugeyah.”
“ Sama kak, tapi apakah mungkin? Engkau
katolik dan guru agama katolik. Aku muslimah dan guru agama islam. Apakah
mungkin dipersatukan dalam ikatan perkawinan?”
“ Mengapa
tidak bisa? Cinta itu tanpa sekat, tanpa batas-batas yang menjauhkan.”
Aku yakin perkawinan beda agama bisa
dilakukan. Maka kujelaskan pada Rugeyah
bahwa ia tidak perlu pindah agama
atau aku juga tidak perlu menjadi islam
hanya karena supaya bisa
menikah.Di Gereja katolik perkawinan
beda agama memang bukanlah perkawinan ideal sebab perkawinan katolik adalah sebuah sakramen,
ikatan yang kudus. Tetapi jika ada dispensasi dari ordinaris wilayah yakni Uskup maka perkawinan katolik dapat
dilaksanakan.
“ Apakah mungkin Bapa Uskup memberi dispensasi?”
“ Kalau
engkau menyetujui sejumlah persyaratan
dispensasi bisa diberikan Uskup.”
“ Apa kak persyaratannya?”
“ Semua anak dibaptis dan dididik dalam
Gereja Katolik. Lalu pihakmu harus
menerima dengan tulus hati dan
engkau juga perlu tahu sifat-sifat hakiki perkawinan katolik.”
“ Jika itu syaratnya, aku siap kak. Mari kita
buktikan bahwa cinta yang tulus mengalahkan segala perbedaan dan mengubah
perbedaan menjadi kesamaan.”
Kami pun benar-benar menikah di Gereja.
Rugeyah maju ke depan altar dengan balutan busana muslim sedang aku dengan balutan pakaian adat Bajawa. Kami
menjadi pasangan yang membangun keadaban
baru menyatukan dua jiwa dalam satu
cinta.
Tak terasa di pusara Rugeyah aku seolah sedang menyusuri lagi setiap tapak jalan yang pernah kami lalui. Aku benar-benar tenggelam dalam kisah cinta sepanjang tiga puluh tahun tanpa sedikitpun titik hitam. Meski sadar yang saling mencintai adalah tetap manusia lemah.
“
Ayah, sudah malam, ayo pulang”. Suara putriku membuyarkan lamunanku.
“ Oh ya, aku lupa malam ini ada tahlilan empatpuluh malam mama.”
Sejenak
aku memandang batu nisan bertuliskan nama Siti Rugeyah Gae. Terimakasih
Rugeyah. Kita telah membuktikan kepada
dunia bahwa cinta itu kuat sekalipun
kita berbeda iman. Kita pun berhasil membuktikan kepada dunia bahwa kita telah menikmati cinta tulus
selama tigapuluh tahun. Kita pun telah
membuktikan kepada dunia bahwa cinta
bisa membuat iman masing-masing semakin
mengakar. Kita telah melakukannya dengan sempurna.Terimakasih Tuhan.***
Denpasar, Malam Natal 24 Desember 2015
***Cerpen ini fiksi, tidak pernah terjadi di
Ende (Ibukota Kabupaten Ende), Maghilewa (Sebuah kampung tradisional di lereng gunung Inerie Kecamatan Inerie Kabupaten Ngada) maupun Aimere (Ibukota Kecamatan Aimere). Kalau ada kesamaan itu hanya kebetulan.
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.