Refleksi Akhir Tahun
 |
Narasumber: Beny Ule Ander, IKG Karyana Govinda, I Made Adi Surya Pradnya, K.H Nurul Huda dan K.H Mustofa |
Dewan Pengurus Daerah - Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi Bali
menggelar event refleksi akhir tahun perjalanan bangsa Indonesia dengan
mengambil tema “Membangun Bali dengan Kerukunan Hidup Umat Beragama” di
Pyxeleet Café, Renon, Denpasar, Jumat 29 Desember 2017.
Humas Flobamora Bali
Beny Ule Ander tampil sebagai salah satu narasumber bersama aktivis NU Kyai H.
Nurul Huda Pengasuh Pondok Pesantren Motivasi Indonesia, Dr I Made Adi Surya
Pradnya Dosen Filsafat IHDN Denpasar, Kyai H. Mustofa Penasihat MUI Bali dan
Sekum Walubi Bali Pendeta IKG Karyana Govinda, Mpd yang juga pengurus FKUB
Bali.
Berbicara dari sisi
sejarah perjalanan Gereja Katolik, Beny Ule Ander mengupas 3 hal: pusaka
warisan, pusaka rohani dan deklarasi Nostra Aetate dari Konsili Vatikan II
sebagai piagam “magna charta modern” yang bertumpu pada tinjauan biblis,
teologis dan kristologis.
“Gereja adalah warisan
dari ikatan spiritual antara Umat Perjanjian Baru dengan keturunan Abraham.
Yahudi, Kristen dan Islam adalah putra putri Abraham dalam iman dan terangkum dalam
panggilan Bapa bangsa itu,” urainya.
Menyinggung warisan
rohani, Sekum Ikada Bali ini menyebut Gereja Katolik tidak menolak apapun yang
benar dan suci di dalam agama-agama ini. Ini bertumpu pada Deklarasi Nostra
Aetate yang disebut sebagai piagam Magna Charta Modern Gereja Katolik yang
diajarkan kepada segenap umat.
“Dalam bahasa gaul,
haram hukumnya bagi umat Katolik untuk menjelekan dan menghina ajaran agama lain,
nabi atau tokoh sakral agama dan rumah-rumah ibadat mereka. Dosa besar jika
kita merusak rumah ibadat agama lain. Karena iman Katolik bersumber dari
alkitab, tradisi dan ajaran magisterium Gereja,” jelasnya.
Lebih jauh alumni STFK
Ledalero ini mengeksplorasi pernyataan
Santo Cyprianus di abad III tentang Extra Ecclesia Nulla Salus yakni di luar
Gereja tidak ada keselamatan. Pendapat Cyprianus ini “dipelintir” dan menjadi
bola liar yang menjadi catatan kelam perjalanan Gereja Katolik masa lampau
yang berlumuran darah.
Awalnya pendapat Cyprianus untuk para bidaah jaman ini yang membuat ritus di
luar Gereja Katolik. Pembaptisan mereka tidak sah. Hanya pembaptisan dalam
Gereja Katolik yang membawa keselamatan. Lalu gagasan ini diteruskan oleh para
Bapak Gereja seperti Irenius dan Clemens
dari Alexandria. Ditambah lagi dengan pernyataan St Agustinus bahwa di luar
gereja ada apa saja, kecuali keselamatan.
“Nah, dalam perjalanan
waktu pandangan ini mengkristal menjadi keeksklusifan Gereja. Salah tafsir ini
terbawa sampai jaman kolonialisme abad ke-16. Dipelintir lagi oleh aliran sesat
Yansenisme saat itu. Gereja hadir menendang agama-agama lokal dan menghancurkan
tradisi budaya yang ada di suatu bangsa sebagai kebudayaan kafir,” paparnya.
Perang salib yang dirasakan sebagai luka sejarah hingga kini dan pengadilan
inkuisisi di Spanyol sebagai sejarah kelam Gereja. Para ilmuwan dibunuh atas
nama Gereja. Perempuan dan anak-anak dibantai atas nama agama.
Karena itu, ulas Beny,
Gereja telah meninggalkan kisah memalukan masa lalu itu. Semua dikubur dengan
lahirnya Deklarasi Nostra Aetate. Karya perwartaan Gereja bukan untuk
keselamatan manusia. Tuhan yang menyelamatkan manusia. Tapi pewartaan ajaran Kristus
dan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup tetap berlanjut sampai akhir
jaman. “Butuh waktu berabad-abad untuk mengkoreksi pemahaman yang kerdil dan
keliru. Membunuh manusia atas nama agama dan ayat-ayat suci sebuah ketersesatan
pikiran yang sudah ditanggalkan Gereja,” tegasnya.
Dalam konteks
pembangunan di Bali, Beny mengutip etika global teolog Hans Kung. “Tidak akan
ada perdamaian dunia tanpa adanya perdamaian agama-agama, tidak akan ada
perdamaian agama tanpa adanya dialog antaragama, tidak akan ada dialog antar
agama tanpa melacak nilai fundamental dari setiap agama.” Karena itu tugas dan
panggilan Gereja di Bali adalah membangun dialog dan kerja sama denga semua
penganut agama lewat dialog kehidupan, dialog karya dan dan dialog pengalaman
iman.
“Bagi umat Katolik Pancasila dan UUD 45 sudah senafas dengan ajaran Katolik.
Sekarang saatnya energi anak bangsa dikristalkan untuk pengembangan diri di
bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan perkembangan bangsa maupun umat manusia.
Stop sudah kita bertikai soal agama. Mari bangun Bali sebagai jangkar peradaban
Nusantara kita. Menjaga dan merawat kebersamaan di Bali sebagai panggilan hidup
umat Tuhan,” tutupnya. ***(Agus G Thuru)
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.