GuidePedia

0

Gunung Inerie

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) moral adalah  ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, sisulia dan sebagainya. Moral juga dimaksudkan  kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin dan sebagainya, isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan. Moral juga dimaksudkan  ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu ceritera.

Gunung Ebulobo

Khusus arti yang terakhir yakni ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu ceritera, saya  seolah dibawa kembali ke masa kecil, masa sekolah dasar antara 1963-1969  di lereng gunung Inerie, Kecamaan Inerie Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur. Setiap hari  saya bersama-teman pasti selalu memandang puncak gunung Inerie karena matahari pasti akan muncul dari balik gunung itu. Kalau kami sampai di sekolah  persis di saat matahari baru muncul maka pasti tidak terlambat. Maklum kami harus tinggal di kebun  yang jarak dengan sekolah antara tujuh sampai sepuluh kilometer. Jarak itu harus kami tempuh setiap pagi dan sore. Pagi ke sekolah dan sore kembali ke kebun.

Gunung/Poco Mandasawu

Tetapi yang lebih menarik dari Gunung Inerie adalah legenda yang dituturkan secara  lisan turun temurun. Orang tua  dan leluhur kami percaya bahwa  Gunung  yang ada di daratan Flores  termasuk di Kabupaten  Ngada  adalah jelmaan dari manusia laki-laki maupun manusia perempuan. Hampir semua  gunung di Flores ada legendanya. Apa yang kutulis ini  adalah Legenda tentang cinta segi tiga  para gunung yang berujung pada pertumpahan darah, penyesalan seumur hidup dan penderitaan  yang tiada berakhir.

Gunung Ine Lika 

Adalah gunung Inerie, Mandasawu, Ebu Lobo dan Ine Lika. Gunung Inerie terletak di wilayah Kecamatan Aimere, Jerebuu dan Inerie. Gunung Ebu Lobo  di Kecamatan Boawae Kabupaten Nangekeo, gunung Ine Lika di Kecamatan  Soa  dan Poco Mandasawu di Kabupaten Manggarai. Dikisahkan Gunung Inerie  sebelumnya  adalah Ine Rie, seorang gadis  yang cantik  jelita, lembut dan mempesona. Tubuhnya tinggi semampi, rambut hitam panjang dengan gigi putih dan bibir yang mempesona. 


Kecantikan Ine Rie sangat tersohor dan tersebar  sampai ke  Manggarai. Kecantikan Ine Rie itu membuat  seorang pemuda  Manggarai bernama Mandasawu  ingin mempersunting  Ine Rie. Maka  ia memainkan jurus-jurus maut untuk menaklukan hati Ine Rie. Mandasawu selalu mencari kesempatan untuk bisa merayu Inerie. Namun Ine Rie  tidak goyah  sedikitpun. Hati dan perasaannya  sudah tertambat pada  seorang pemuda bernama Jara Masi. Karena itu meskipun Mandasawu hampir setiap  waktu merayu Ine Rie tetapi  tetap saja gagal. Ine Rie tak sedikitpun bergeming.

Di saat yang sama  seorang pemuda lain bernama Ebu Lobo juga jatuh cinta pada Inerie. Ebu Lobo  juga tak kalah gesit  ingin menaklukan hati Inerie. Maka seperti  yang dilakukan Mandasawu, Ebu Lobo  juga memainkan jurus-jurus  rayuan maut agar Ine Rie bisa bertekuk lutut dan menerima cintanya. Begitu menggebu  cintanya pada Ine Rie  membuat Ebu Lobo  dibakar  cemburu  setiap kali Mandasawu  datang merayu Inerie. Setiap  dibakar cemburu, Ebu Lobo mengasah parang agar tajam  sehingga  bila harus berperang demi  mendapatkan Ine Rie  ia sudah siap.
Sebetulnya Ebu Lobo  sudah pernah menyatakan cintanya kepada  seorang gadis  bernama Ine Lika. Namun  ketika Ebu Lobo  terpesona dengan kecantikan Ine Rie maka  Ebu Lobo pun masa bodoh dengan Ine Lika. Akibatnya Ine Lika juga dibakar cemburu  kepada  Ine Rie  yang menurutnya telah merebut  Ebu Lobo dari kehidupannya. Setiap kali menyaksikan  Ine Rie  disapa oleh Ebu Lobo  maka Ine Lika merasa hatinya diiris-iris dengan pisau tajam. Ine Lika pun  menangis  sedih melihat tingkah Ebu Lobo yang begitu mudah pindah ke lain hati.

Sedangkan Jara Masi  menghadapi  tingkah Mandasawu, Ebu Lobo dan Ine Lika tenang-tenang saja. Ia juga tidak dibakar  cemburu karena kekasihnya Ine Rie didekati oleh  Mandasawu dan Ebu Lobo. Jara Masi  sangat percaya  pada ketulusan  hati Ine Rie terhadap cintanya. Jara Masi percaya bahwa  Ine Rie  tak mudah ditaklukan. Maka ia sungguh menaruh kepercayaan  kepada Ine  Rie. Ia juga tidak membenci Ebu Lobo dan Mandasawu. Bahkan ia tetap bertegur sapa dengan kedua  temannya itu  seolah-olah tidak terjadi perkara apapun.

Yang terjadi justru  adalah perseteruan antara  Mandasawu  dan Ebu Lobo  yang semakin menjadi-jadi. Mereka saling menantang, saling beradu otot dan otak. Mereka  berlomba-lomba  untuk mendapatkan  cinta  Ine Rie. Maka  berbagai cara pun dilakukan. Saling jegal antara Mandasawu dan Ebu Lobo tak terelahkan lagi. Puncaknya  adalah Ebu Lobo dan Mandasawu  sepakat untuk berperang. Siapa yang terbunuh  maka  dialah yang kalah  dan yang menang berhak untuk mendapatkan   Ine Rie.

Namun belum sampai pada hari yang sesuai dengan perjanjian, peperangan pun terjadi. Ebu Lobo  yang sudah menyiapkan parang tajam pun  terbakar amarah  ketika melihat Mandasawu mendekati Ine Rie. Dengan seluruh kekuatan dan amarah yang meluap-luap, ia mengayunkan parang ke arah leher  Mandasawu. Sayangnya, parangnya terlepas dari genggaman  dan terlempar ke arah laut lepas. Sedangkan parang Mandasawu  yang juga diayunkan  sekuat tenaga ke arah leher  Ebu Lobo mengenai sasaran. Kepala  Ebu Lobo tertebas dan terlempar jauh ke arah utara. Darah pun bercucuran dari leher Ebu Lobo yang telah kehilangan kepalanya. Melihat  Ebu Lobo tewas  ditebas Mandasawu Ine Lika pun  merasa sedih. Ia menangis  meraung-raung. Ine Lika  menjadi sedih.

Menurut legenda yang diwariskan  secara lisan, kepala  Ebu Lobo  yang ditebas Mandasawu  terlempar ke utara  dan jatuh  di perairan laut  Riung. Karena dasyatnya hempasan membuat kepala Ebu Lobo pecah berkeping-keping. Karena  peristiwa  berdarah itu semua yang terlibat dalam cemburu  cinta  itu mendapat kutukan  menjadi gunung. Ine Rie  menjadi gunung Inerie yang tenang namun tetap mempesoba. Ine Lika  menjadi gunung berapi Ine Lika yang sampai sekarang  mengeluarkan asap  dan dipercaya Ine Lika menangis sedih.Bahkan beberapa tahun lalu meletus. Ebu Lobo menjadi gunung Ebu Lobo  yang hampir setiap saat mengeluarkan asap dan api dan dipercaya sebagai cucuran darah. Sedangkan Mandasawu  menjadi gunung Mandasawu.
Kepala Ebu Lobo yang terhempas di Riung  dan pecah berantakan  berubah menjadi pulau-pulau yang sekarang dikenal  kawasan 17 Pulau. Para  Ebu Lobo yang terlepas dari  tangannya dan terhempas ke laut lepas  berubah menjadi Pulau yang sekarang disebut Pulau Sumba. Sedangkan parang dari Mandasawu  juga terlempar kea rah timur  dan terhempas di  pantai Ende  lalu menjelma menjadi Pulau Ende.
Lalu kemana  tokoh Jara Masi? Karena ia ksatria, baik hati, lembut, tidak cemburu buta, selalu menaruh kepercayaan kepada orang yang ia cintai maka  ia menjelma menjadi kendaraan bagi orang-orang yang meninggal untuk  bisa sampai ke nirwana. Jara Masi  dipercaya  sampai sekarang  berdiam di Gunung Inerie  karena cintanya kepada Ineria adalah cinta yang sejati, tak terceraikan.***
*)  Ini hanya salah satu versi. Ada banyak versi legenda  tentang gunung yang terlibat cinta  segi tiga. Kalau  ada yang masih ingat sebaiknya ditulis  sehingga  semakin banyak versi, semakin baik. Dan yang paling penting, kita sudah mengambil bagian untuk memwariskan  secara literer, secara tertulis.
Denpasar, 16 Januari 2018



Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top