GuidePedia

0



Banyak hal yang menarik di tahun 2017. Semua orang pasti punya pengalaman suka dan duka, untung dan malang. Mungkin sama persis dengan tahun 2016 lalu. Atau ada yang lebih beda di tahun 2017. Namun pengalaman pribadi pasti akan tetap menjadi kisah pribadi, yang dirasakan juga secara pribadi.

Tapi seringkali perasaan pribadi bisa dipengaruhi pula oleh hal-hal yang terjadi di luar diri pribadi. Peristiwa yang seharusnya  bersifat publik  tetapi karena sangat berkaitan erat dengan sensifitas  pribadi  maka  sangat berpengaruh terhadap  cara berpikir, cara bertindak dan cara bertutur kata pribadi. Peristiwa publik itu tanpa sadar telah menggiring  orang secara pribadi masuk ke arena “konflik” meskipun  tanpa senjata atau bedil dan  tidak pada medan pertempuran.

Konflik tanpa Senjata

Sepanjang tahun 2017, sadar atau tidak sadar masyarakat Indonesia  sesungguhnya  terlibat konflik  yang luar biasa. Perang  sesungguhnya berkecamuk  di Indonesia meski tanpa terdengar letusan bedil  atau dentuman meriam. Pemicunya  adalah panggung politik. Medan perang  adalah media sosial atau  yang juga popular dengan istilah Dunia Maya (Dumay). Sedangkan pasukan yang berperang  adalah mereka yang berkepentingan, yang memanfaatkan semua  cara, dengan menggiring opini public  agar bisa mencapai tujuan (goal). Dan  masyarakat  adalah korban dari konflik atau perang politik itu  yang kemudian  menyampaikan  perasaan  suka, duka, marah, dukungan sesuai dengan suasana batinnya melalui saluran media social.

Masyarakat digiring ke medan laga para penguasa panggung politik. Dengan  cara-cara yang  meyakinkan bahkan licik, masyarakat  kemudian digiring  ke situasi dimana mereka seolah-olah menjadi “pemain utama” di panggung politik itu. Hasilnya, masyarakat  berada di antara segerombolan atau dua ekor gajah yang ketika gajah dengan gajah berkelahi, masyarakat  seperti pelanduk, yang mati di tengah-tengah. Itulah kenyataan sepanjang tahun 2017.

Masyarakat  atau “rakyat” yang  adalah pemilik kedaulatan bangsa ini  dengan mudahnya dijadikan tumbal politik. Maka demi mencapai tujuan politik, pihak-pihak tertentu  mengerahkan  massa  rakyat  sebagai pelor-pelor  yang melesat dari dua mulut meriam. Lalu tanpa sadar (atau mungkin sadar) letusan meriam itu saling berhadapan mirip perang tradisional  masa silam dimana  antara dua kelompok  saling berhadapan, berperang  sampai salah satu pihak  lari terbirit-birit menunjukkan kekalahannya. Para rakyat itu telah menjadi tumbal kepentingan politik yang selalu berteriak  bahwa perjuangannya  demi rakyat tetapi sesungguhnya, demi kekuasaan yang diincarnya.

Pertikaian di Medsos

Di tahun 2017 media social menjadi  saluran efektif  bagi siapa saja untuk menyalurkan perasaan. Meyalurkan perasaan suka, duka, untung dan malang. Tetapi juga untuk menyalurkan perasaan  benci, dengki, menyebarluaskan kebencian, kemarahan, ketidaksukaan, ketidaksaudaraan. Media social di sepanjang tahun 2017  menjadi  saluran orang  untuk  saling caci, saling hina, saling umpat, saling merendahkan harkat dan martabat. Seolah-olah, mereka yang menyalurkan  amarah di Medsos itu  sudah kehilangan rasa kemanusiaan, sudah lupa bahwa manusia itu  berasal dari citra yang sama, ciptaan Tuhan yang sama pula.

Diskusi-diskusi politik yang ditawarkan di media social  mendapat respon beragam. Diskusi bukan lagi untuk saling  asuh, asah asih tetapi untuk saling cemooh bahkan  saling merendahkan. Tak heran bila kata-kata  dalam diskusi media social itu bisa membuat  bulu kuduk merinding. Kata binatang, anjing kurap, setan, dan lain-lain yang ditujukan kepada seseorang (lawan diskusi)  membuat  siapa yang masih punya rasa kemanusiaan mengelus dada sambil berbisik “meaculpa”. Terkesan, manusia Indonesia (yang terlibat diskusi Media Sosial) telah kehilangan tatakrama, kehilangan kemanusiaan yang adil dan beradab, kehilangan persatuan Indonesia, bahkan kehilangan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tuhan pun Dipasung

Yang menyedihkan, di tahun 2017 Tuhan  digiring ke panggung politik. Tuhan dijadikan “alat” untuk mencapai tujuan politik. Tuhan  menjadi kekuatan yang seolah-olah “pro” dengan satu kelompok  dan “kontra”  dengan kelompok lain. Tuhan  diklaim hanya milik kelompok tertentu  dan bukan milik kelompok lainnya. Tuhan  disebut-sebut hanya milik kelompok yang pro pada sosok pemimpin tertentu dan  tidak menjadi milik  kelompok yang kontra dengannya.

Maka  tidak heran jika di tahun 2017 media social pun diwarnai dengan komentar-komentar yang merendahkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan yang diyakini  kelompok agama tertentu disebut-sebut sebagai Tuhan yang salah, Tuhan yang keliru, Tuhan yang tidak benar dan hanya Tuhan kelompok tertentu saja  yang benar. Saling hina, saling hujat antar kelompok agama (dalam media social) bahkan menjadi viral. Tuhan  agama tertentu disebut anjing, babi dan lain-lain istilah yang tak pantas dinikmati.
Di tempat lain  tampil kelompok yang secara terang-terangan menyebut  agama tertentu “kafir”  dan karena itu  setiap pemimpin  atau calon pemimpin  dari agama yang  disebut kafir itu  adalah juga kafir. Karena itu  orang kafir tak pantas menjadi pemimpin. Kelompok yang terang-terangan ini bahkan berhasil menggalang massa  dalam jumlah jutaan  untuk memrotes  calon pemimpin yang  disebut kafir itu. Politisasi agama pun tak terhindarkan lagi. Bahkan  siapa yang  mendukung  calon pemimpin atau pemimpin yang disebut kafir itu, meskipun  masih satu iman, sudah dipandang kafir. Itulah sepenggar catatan kusam  panggung politik  bangsa kita di tahun 2017.


Memasuki tahun 2018 ini, kiranya kita  lebih arif, lebih dewasa, lebih cerdas dalam segala hal, termasuk dalam hal berpolitik. Kita berharap agar panggung politik benar-benar steril dari kepentingan yang menggiring agama  sebagai sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan. Kita berharap agar TUHAN  tidak dipasung lagi  di panggung politik 2018 ini. Biarkan Tuhan  menjadi kekuatan baik bagi siapa saja  karena Ia ADA  untuk semua orang dan tidak mengenal panggung pro dan kontra. Selamat Tahun Baru 2018. Jaya Indonesia.***


agust g thuru/Denpasar 31 desember 2017

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top