GuidePedia

0
Sisi lain dari setiap perhelatan politik Pilkada/Pilgub adalah bergulirnya isu-isu "miring" tentang para kandidat. Entah siapa yang menggulirkan atau meniupkan api isu tersebut. Yang pasti isu miring seperti api dalam sekam, bisa membakarhanguskan para kandidat, terutama yang tidak kuat mental.
Isu miring yang paling sering ditiupkan oleh berbagai pihak "yang berkepentingan" adalah yang berkaitan dengan perempuan (seks), soal moral. Lalu isu korupsi. Soal moral, orang akan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan bukti-bukti material misalnya foto sedang berpelukan dengan perempuan yang bukan istri dalam kondisi kurang sedap dipandang mata, dan lain-lain. Di era teknologi informasi yang serba canggih ini, foto-foto atau bukti material lainnya dengan mudah menjalar ke dunia maya. Foto-foto "tak senonoh" itu pun sesungguhnya mudah direkayasa. Apa yang tidak bisa dibuat dengan makin majunya teknologi informasi dewasa ini? Pertanyaan menarik adalah; dapatkah foto-foto itu menjadi "silet" yang tajam memotong karakter para kandidat?
Bagi lawan politik tujuannya adalah pembunuhan karakter. Tak perduli isu yang ditiupkan itu benar-benar terjadi, cuma benar-benar isu belaka atau sekedar hasil rekayasa. Meskipun sesungguhnya isu "perempuan", seperti perselingkuhan, menghamili perempuan dan lain-lain sulit dibuktikan tetapi bagi lawan politik, isu perempuan ini sangat strategis untuk menghancurkan harkat dan martabat kandidat, pembunuhan karakter, perendahan derajat dan sebagainya.
Maka jurus "jualan isu perempuan" seringkali kandas, tak berhasil mematahkan laju kandidat dalam meraih popularitas. Apalagi rakyat sekarang sudah makin cerdas. Mereka berpandangan, soal moral urusan yang bersangkutan dengan Tuhan, bukan dengan rakyat. Bagi rakyat, kalau calon bekerja, apa lagi sudah terbukti berhasil, moral diabaikan. Yang mereka butuhkan pemimpin yang bekerja untuk mereka.
Isu kedua adalah korupsi. Ini adalah isu paling dasyat, paling hangat, paling panas. Meskipun isu korupsi tidak atau belum terbukti tetapi rakyat sudah makin cerdas. Mereka mengikuti berita dari berbagai sumber adanya kandidat yang "diduga" terlibat tindak pidana korupsi. Bahkan sudah pernah ditetapkan sebagai tersangka meskipun tidak diadili atau mungkin belum sempat diadili. Isu korupsi sebetulnya bisa membuat kandidat "kalah" sebelum bertarung. Tetapi di Indonesia, koruptor bisa melenggang kangkung ke panggung politik tanpa halangan.
Maka di Pilkada/Pilgub Serentak tahun 2018 ini rakyat dihadapkan dengan tiga pilihan calon pemimpin. Pertama, memilih calon pemimpin yang bersih tanpa isu moral (perempuan), tanpa isu korupsi. Pokoknya calon yang bersih, belum terkontaminasi, belum ada pengalaman berselancar di dunia perselingkuhan maupun dunia korup mengkorup. Kedua, memilih calon pemimpin yang disebut-sebut cacat moral, tetapi terbukti ia bekerja untuk kepentingan rakyat, pernah memimpin dan berhasil membawa rakyat keluar dari zona kemiskinan. Ketiga, memilih calon pemimpin yang pernah "diisukan" melakukan tindak pidana korupsi.
Nah, bila sudah sampai saatnya dan Anda sudah masuk ke TPS, silahkan Anda menimbang pakai hati nurani. Sebab salah memilih, anda akan kehilangan kesempatan emas lima tahun ke depan. Maka cerdas dan bijaksanalah memilih pemimpin. Memilih bukan soal "selera" tetapi soal " hidup" lima tahun setelah Anda mencoblos.***
Denpasar, 26 Januari 2018

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top