GuidePedia

0
Tulisan ini sekedar asal omong. Jadi jangan dipercaya. Tapi untuk direfleksikan boleh. Ada sebuah negara menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala desa, bupati,walikota dan gubernur. Pemilihan serentak.

Maka berlomba-lombalah orang mendaftar. Yang mantan camat ikut mendaftar. Yang mantan bupati pun ikut mendaftar. Yang masih aktif di DPR rela meninggalkan jabatannya demi menjadi kepala desa. Yang masih jadi menteri pun lengser demi maju berkompetisi merebut jabatan yang sebetulnya stratanya lebih rendah dari jabatan yang sedang diembannya.

Para mantan menteri, mantan tentara, mantan polisi, bahkan yang masih aktif menjabat sebagai pemimpin di sebuah teritorial juga mundur demi mengikuti Pemilihan. Pada hal jabatan yang sedang diembannya terhormat dan dari aspek upah tentu tidak kecil.

Saya pribadi melihat ini sebuah fenomena. Soalnya, dulu orang enggan mencalonkan diri. Kalau pun ada, karena dipaksa partai atau oleh masyarakat. Sekarang, terbalik. Partai dituduh kong kaling kong, minta mahar, dan lain-lain tuduhan kalau gagal di level pencalonan.

Sekarang rakyat tidak perlu cari calon tetapi calon yang datang sendiri ke rakyat. Calon memanfaatkan berbagai event untuk sosialisasi diri. Memanfaatkan mimbar rumah ibadah, pesta adat, kenduri orang mati dan sebagainya.

Saya merasakan, ini fenomena serbuah era, dimana jabatan dilihat bukan dari strata sosialnya, bukan dari penghasilan yang akan dia dapatkan tetapi dari hitung-hitungan politis yang serba tersembunyi. Ini menurut saya. Bagaimana menurut ANDA?***


Denpasar 18 Januari 2018.

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top