GuidePedia

0
HIDUP ITU SEBUAH PERJALANAN BERSAMA
Makan bersama sebagai sarana merayakan kebhinekaan (Foto Alfred)
Hidup itu tentang perjalanan bersama aku dan Engkau (Gabriel Marcel). Yang terjadi karena aku berpikir maka aku ada (René Descartes) dalam sebuah proses yang tidak berkesudahan (Alfred North Whitehead). Dalam kebersamaan itu ada kehendak untuk berkuasa (baca kecenderungan menguasai yang lain) yang ditentukan oleh kekuatan sebagai kebajikan dan kelemahan sebagai yang memalukan (F. Nietzsche). Akibatnya orang berusaha meniadakan/ menegasikan yang lain. Apalagi di tahun politik ini, harapan Gabriel Marcel hanyalah sebuah permainan bahasa (Wittgenstein).

Sebagai orang beriman (dan beragama, maaf beragama sengaja saya letakkan dalam kurung, karena seringkali saya terkerangkeng dalam kurungan pemikiran yang hitam putih, dalam sebuah penialian yang bersifat menghakimi atau mengadili sesama menurut kurungan dan cara berpikir agama saya) hidup kita adalah perjalanan bersama antara aku (diriku) dan Engkau (Sang Pencipta). Jarak aku dan Engkau berisi aku sebagai pribadi lain yang dalam kebersamaan sebagai kita.

Dalam perjalanan bersama itu “kita akan mampu melihat dan menemukan kebaikan dalam diri sesama dan dalam segala situasi” (Brian Tracy). Bahkan kita selalu siap untuk ada bersama karena dilandasi oleh semangat “bukan apa yang kita dapat, tetapi akan menjadi apa kita dan apa yang dapat kita berikan, yang akan memberi arti dalam hidup kita”(Anthony Robbins). Jika demikian, mengapa kita masih terus tergoda untuk menghakimi, mengadili sesama dengan kacamata kita yang lebih seringnya "terkurung" dalam kesempitan dan egoisme. Inilah sumber perang, sumber kekerasan karena berteguh pada diri sendiri, seolah-olah hanya kita sendiri.
Dalam konteks kebhinnekaan bangsa ini, hidup bersama itu mesti dilandasi oleh semangat pengampunan. Sebab David Augsburger menegaskan bahwa pengampunan berarti “membiarkan apa yang terjadi berlalu, tetapi berusaha menggapai apa yang akan datang, apa yang sekarang ada.” Dan pengampunan hanya terjadi ketika kita menyadari diri sebagai mahkluk yang tidak sempurna (sehingga bisa menerima orang lain sebagai yang sama dengan diri kita) dalam kesempurnaan cinta. Ini terasa utopis, tetapi bisa terwujud dalam konteks kebhinnekaan kita, kita mampu mengurungkan kepentingan dan cinta diri yang berlebihan. Bukankah itu yang melandasi semangat bertahannya bangsa ini??

Semoga memasuki tahun-tahun politik sampai tahun 2019, anak-anak ibu pertiwi semakin  bisa teguh sebagai satu keluarga Indonesia.

Kaki Merapi, 19 Januari 2018
Alfred B. Jogo Ena

Posting Komentar

Emoticon
:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Aktivitas Warga Ikada Bali

 
Top