SARUNG
ADAT DAN DIPLOMASI KERAGAMAN
Selalu
Ingat akan Akar Budaya
Oleh Alfred B. Jogo Ena
 |
Pak Marianus dalam balutan busana tradisional Nagekeo: tanpa jarak (foto dari BERGERAK MAJU MENANG Untuk Marianus-Emi..!! |
Ada yang menarik dari
perhelatan pesta demokrasi langsung dalam pemilihan kepala daerah (pilkada di Kabupaten
dan Propinsi NTT). Setelah beberapa waktu lalu saya mencoba menggambarkan calon
pemimpin melalui ungkapan bahasa daerah Bajawa, kali ini tentang tampilan para
calon dengan busana tradisional masing-masing.
Nusa Tenggara Timur
(dan Indonesia Timur) menjadi gambaran Indonesia mini karena kaya akan SARA:
suku, agama, ras dan antargolongan. NTT memiliki puluhan suku dan bahasa serta
dialek daerah yang amat beragam. Ambil contoh Ngada (sebelum Nagekeo berdiri
sendiri sebagai kabupaten) terdiri dari 3 suku besar dengan ragam dialeknya:
Bajawa (ada dialek Bahasa Bajawa pegunungan dan dialek pesisir selatan),
Nagekeo (ada dialek bahasa nage dan keo) dan Riung (yang dialeknya lebih
mendekati bahasa Manggarai). Meski ada keragaman budaya dan bahasa – dengan bahasa
Indonesia sebagai bahasa pemersatu – kabupaten Ngada kala itu bisa berjalan
baik.
Dalam pilkada kali ini,
ada sesuatu yang lebih mulai berani ditampilkan: para calon tampil beda dengan
atribut tradisionalnya. Ini sesuatu yang positif sebagai sebuah pernyataan
sekaligus penerimaan bahwa meski kita memang berbeda, toh kita tetap bisa
bersatu dalam memajukan Propinsi ini secara bersama-sama. Toh perbedaan itu
sebuah artibut yang melekat pada kita tanpa bisa ditolak. Tetapi penerimaan
akan perbedaan itulah kekayaan NTT.
Dalam skala Nasional,
presiden Jokowi dalam banyak kesempatan meminta para bawahannya untuk tampil
dengan pakaian tradisional masing-masing. Penampilan diri dengan budaya
tradisional ini selain menunjukkan rasa bangga pada tradisi lelulur, juga untuk
menyatakan bahwa perbedaan politik, agama, suku atau apapun tidaklah
menghalangi kita untuk bekerjasama dan bekerja bersama-sama membangun bangsa,
khususnya NTT tercinta.
Tampilan budaya yang
kuat itu kalau mewakili kesetaraan gender: ada pria dan wanitanya (sekalipun
mereka tambil dengan busana berbeda (suku dan kekayaan tradisi yang
ditampilkan). Saya tidak perlu menunjuk pasangan mana yang sudah secara lengkap
menawarkan kompleksitas NTT, termasuk dalam hal gender.
***
Diplomasi sarung adat
ini menegaskan kembali arti dan peran budaya dalam menyelesaikan berbagai
persoalan yang ada dalam masyarakat. Diplomasi ini menegaskan bahwa persaingan
politik tidak boleh meninggalkan jejak sejarah dan kekayaan leluhur kita. Jika dunia
politik selalu bersebarangan, tetapi dalam adat semua yang bersebarangan bisa
bersatu. Segala persoalan bisa diatasi dengan diplomasi adat, selama
masing-masing pihak mau duduk sama rendah (bersila dalam kebiasaan adat) dan
memikirkan bersama-sama solusi sebuah persoalan.
 |
Bersarung untuk meretas jarak (foto dari BERGERAK MAJU MENANG Untuk Marianus-Emi..!! |
Diplomasi sarung adat yang
mulai digunakan oleh para calon (dalam konteks politis) tetap hendak menegaskan bahwa jangan sekali-kali
kita meninggalkan budaya dan kearifan lokal kita. Karena dari sanalah kita
berasal dan dibentuk. Dari sanalah kita belajar menyelesaikan masalah. Memang
hanya sebuah sarung adat, tak peduli dari mana, tetapi efeknya luar biasa, para
calon petinggi kabupaten dan provinsi perlu mempertontonkan diplomasi sarung adat sehingga menjadi
kesejukan tersendiri bagi provinsi yang bhinneka ini. Jangan pernah meninggalkan
adatmu, kawan!
Kaki Merapi, 23 Januari
2018
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.